Santri Harus Mendunia

وَمَا كَـانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُ كَافّةً فَلَوْلاَنَفَرَمِنْ كُلِّ فَرِقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةً لِيَتَفَقّهُوأ فِى الدّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمُهُمْ اِذأ رَجَعُوْ اِلَيْهِمْ لَعَلّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi kemedan perang, mengapa sebagian diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. QS. At-Taubah ayat :122

Kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh); (3) Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya (departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1998, 783). Asal-usul kata “santri” sendiri mempunyai beragam pendapat, menurut Dr. Nurcholis Majid sekurang-kurangnya ada dua kata yang dapat di jadikan bahan acuan. Pertama, berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “sastri“, yang berarti orang yang melek huruf. Kedua, berasal dari bahasa Jawa, yaitu “cantrik“, yang berarti seseorang yang mengikuti kyai di mana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tertentu (Madjid, 1997, 20). Menurut C.C. Berg kata santri berasal dari bahasa India “Shastri”, yaitu orang-orang yang tahu buku-buku suci agama hindu. Sementara itu A. H. John menyebutkan bahwa terma santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji (Suharto 2011, 9). Secara umum, definisi santri identik dengan seseorang yang tinggal di Pondok Pesantren, yang kesehariannya mengkaji kitab salaf atau kitab kuning yang berisi ilmu-ilmu tentag agama islam, dengan tubuh dibalut sarung, peci, atau pakaian “khas” yang menjadi pelengkap dan menambah ciri khusus mereka.

Pada zaman nabi, tedapat sebuah kelompok yang populer dengan sebutan “Ashabu ash-shuffah”. Rasulullah SAW mendirikan Ash-Shuffah untuk mendidik para sahabatnya menjadi generasi yang mampu menopang dan mendorong perkembangan Islam melalui ilmu dan pendidikan. Kehadiran Ash-Shuffah berhasil mewujudkan masyarakat belajar di Madinah. Selain itu, lembaga Ash-Shuffah ini mampu melahirkan banyak sekali tokoh-tokoh yang memiliki peran penting di awal perjalanan Islam seperti Abu Hurairah, Abu Dzar Al-Ghifari, Salman Al-Farisi, Bilal bin Rabbah dan yang lainnya. Ash-Shuffah sebagai lembaga pendidikan telah memiliki minimal empat unsur pendidikan, yang meliputi tujuan pendidikan, pendidik dan anak didik, lingkungan, dan sarana pendidikan. Program pendidikan ini mengajarkan kepada para Ahl Ash-Shuffah berbagai keterampilan dalam membangun peradaban manusia yang maju, terutama keterampilan membaca dan menulis.

Konsep Ash-Shuffah ini mirip dengan konsep pesantren tradisional di Indonesia, dimana terdapat sebuah tempat khusus yang didirikan sebagai tempat tinggal para santri. Untuk makan dan kebutuhan hidup, Rasulullah sering memberikan shadaqoh kepada mereka dari harta rampasan perang, dan tak sedikit pula para sahabat lain memberi makanan kepada mereka. Adapun di pesantren tradisional, santri biasanya ikut membantu bekerja di ladang atau sawah milik kyai, dan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan para santri. Orientasi belajarnya juga sama, yaitu lebih fokus ke ilmu pengetahuan agama untuk membentuk para da’i dan ulama penyebar agama Islam.

Meneropong perkembangan santri saat ini, tak bisa lepas dari dinamika perubahan yang terjadi pada tempat mereka menimba ilmu dan pendidikan, yaitu pesantren. Pada masa dulu, pesantren cenderung fokus pada pembelajaran ilmu-ilmu pengetahuan agama saja, karena jika kita menelisik sejarah, pesantren di Indonesia berdiri sebagai tempat-tempat pendidikan untuk kaderisasi calon ulama, kyai dan da’i dengan tujuan menyebarkan agama islam dan memimpin serta mengatur masyarakat sesuai norma dan tuntunan agama. Tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren adalah Raden Rahmat atau terkenal dengan julukan Sunan Ampel. Ia mendirikan pesantren di Kembang Kuning yang kemudian ia pindah ke Ampel Denta Surabaya. Misi keagamaan dan pendidikan Sunan Ampel mencapai sukses, sehingga beliau dikenal oleh masyarakat, yang kemudian bermunculan pesantren-pesantren baru yang didirikan oleh para santri dan putra beliau. Misalnya, pesantren Giri oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Fatah dan pesantren Tuban oleh Sunan Bonang.

Perkembangan zaman turut mengantar perluasan makna santri di masa kini, siapapun yang pernah mengenyam pendidikan agama islam sekarang bisa disebut dengan santri, meskipun dia tinggal di pesantren atau tidak, bahkan banyak orang yang berlatar pendidikan umum dan tidak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal juga menamai diri mereka santri, dengan alasan mereka turut mendengarkan dan mengikuti ajaran-ajaran yang disampaikan para kyai seperti melalui media pengajian. Selain itu, ruang lingkup studi yang dikuasai para santri di zaman sekarang juga semakin beragam dan tidak hanya berorientasi pada kitab kuning atau pelajaran agama islam saja. Hal ini dapat kita lihat bahwa pesantren yang memiliki madrasah atau institusi pendidikan yang bernaung di bawah kementrian agama memiliki standarisasi manajerial serta kurikulum pendidikan yang menjadikan para santri bisa memilih kemana nanti mereka akan mengoptimalkan potensi yang mereka punya, seperti dalam bidang sains, ilmu sosial, politik, kedokteran, seni atau yang lain.

Istilah santri mengalami perluasan makna, sebagaimana konsep pesantren yang juga mengalami perkembangan baik dalam tataran sistem maupun materi ajarnya. Apabila dahulu santri identik meneruskan studinya di haromain, yaitu makkah dan madinah, serta beberapa pusat pendidikan Islam di Timur Tengah seperti di Mesir, Yaman, Syria, Maroko dan lainnya setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren indonesia, maka sekarang santri menimba ilmu hampir di seluruh penjuru dunia. Tidak sedikit para santri lulusan pesantren melanjutkan pendidikan di negara-negara Eropa maupun di Benua Amerika. Mereka juga tidak melulu mengambil jurusan agama, namun berbagai disiplin ilmu mereka pilih untuk nantinya dapat digunakan membangun negara.

Ketika semangat menghidupkan kembali masa keemasan islam (The Golden Age of Islam) menggelora, maka jalur pendidikan dan pengetahuan menjadi lokomotif utama penggeraknya. Dalam pembacaan sejarah kita, ilmu pengetahuan dalam islam pernah mengalami perkembangan yang signifikan karena para ulama kita mengikuti konsep dan perintah agama, terutama konsep iqro’. Mereka tidak hanya membaca buku-buku mengenai keislaman saja, tapi juga banyak menerjemahkan beraneka ragam buku pengetahuan karangan ilmuwan berbagai belahan dunia, seperti Yunani, Persia, Romawi dana India. Ruh akademisi benar-benar menggelora karena mendapat dukungan dan dorongan dari khalifah atau para penguasa. Oleh karena itu, sangat tidak heran jika para ulama zaman itu sangat dekat dengan umara’, karena adanya simbiosis mutualisme antara mereka dalam memajukan bangsa dan agama, sebut saja khalifah Harus Ar-Rasyid dan khalifah Al-Ma’mun yang membangun baitul hikmah sebagai pusat penelitian dan keilmuan sebagai surga bagi para ulama dan ilmuwan.

Selanjutnya ketika Eropa mulai menapaki kemajuannya kembali dengan gerakan renaissance, yang mana para cendekiawan, peneliti dan akademisi menjadi pelopor utamanya, umat islam justru mulai mengalami kemunduran karena para raja dan penguasa mulai menjauhkan para ulama dari pemerintahan, bahkan membatasi ruang gerak mereka dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Para sarjana Barat banyak yang menimba ilmu pegetahuan di universitas-universitas Islam, khususnya di andalusia (Spanyol) yang kemudian dibawa ke seluruh  Eropa dan menjadikan masyarakat barat mampu membangkitkan kembali sejarah emas pada zaman yunani dan romawi. Adapun orang-orang islam sendiri pada masa itu mulai banyak meninggalkan ajaran-ajaran islam yang telah membawa mereka ke zaman keemasan.

Banyak pesantren saat ini tidak hanya membekali para santri dengan ilmu agama, namu juga ilmu bahasa, pengetahuan, teknologi dan sains. Para kyai dan ustadz juga mulai membuka cakrawala berpikir para santri bahwa tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan dalam Islam. Para pengajar di pesantren juga terus menanamkan semangat tholabul ilmi ke para santri dengan cara mengungkapkan sejarah bahwa ilmu pengetahuan modern yang ada merupakan temuan-temuan dari para ilmuwan muslim di masa lalu, seperti Al-Khawarizmi penemu Al-jabar, Jabir bin Hayyan yang disebut sebagai Bapak Kimia Modern,  dan Ibnu Sina Ahli Kedoteran yang masyhur dengan sebutan aviciena di Barat, dimana dalam umur 10 tahun konon dia telah hafal Al-Qur’an.

Pada era modernisasi saat ini dengan teknologi menjadi trade mark-nya, maka informasi dan ilmu pengetahuan hampir dapat diakses oleh siapa saja dan dimana saja. Pola pikir masyarakat muslim menjadi lebih terbuka mengenai apa kesalahan yang membuat mereka jadi tertinggal dibandingkan masyarakat Eropa dan Amerika yang mayoritas non-muslim. Jika pada dasawarsa terakhir gerakan orientalisme (mempelajari ketimuran/islam) sangat tren di kalangan cendekiawan barat, maka gerakan oksidentalisme (mempelajari barat) pada akhir –akhir ini mulai menggeliat dengan ditandai banyak sarjana muslim merantau ke Eropa, Amerika dan benua-benua lainnya untuk mencari ilmu pengetahuan. Santri sekarang harus berani memasuki pusaran dunia untuk dapat turut andil dalam membawa kembali kejayaan masyarakat muslim, baik dalam bidang politik, sosial dan pendidikan. Para santri adalah generasi masa depan negeri yang diharuskan berani berjuang tholabul ilmi di berbagai bidang, di segala tempat, dan  di setiap waktu, karena itu adalah fitrah dan perintah dari Tuhan. “Pergilah ke Cina karena hadits memerintahkanya, telusurilah Asia-Afrika serta sejarah masa lalunya, Pergilah ke Eropa dan Amerika sebab pusat ilmu pengetahuan sedang berada disana, dan jangan lupa kembalilah ke negerimu, karena kau punya kewajiban untuk membangunnya”. Santri untuk Negeri, Hubbul Wathon Minal Iman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *