Modernisasi Pendidikan Tahfidz Al-Qur’an dan Kitab Kuning di MTs. Salafiyah

Oleh : Ahmad Agus Salim

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (baik secara) diam-diam (maupun) terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 29—30). 

Madrasah Tsanawiyah Salafiyah didirikan oleh KH. Baidlowi Sirodj pada tanggal 1 Januari 1952 M. Lembaga Pendidikan Islam ini bertolak dari pesantren bercorak salaf yang sebelumnya didirikan oleh KH. Sirod sejak tahun 1902 M. Pada awal mulanya, madrasah tersebut merupakan pelengkap pembelajaran yang ada di pesantren, sehingga nuansa akademik yang terbentuk dipastikan tidak jauh dari sistem yang berkembang di lingkungan para santri, yaitu berorientasi pada ketekunan, kesederhanaan dan “berkah” keilmuan para kyai.

Pada awal abad 21, Madrasah ini mengalami perkembangan yang signifikan baik dari aspek kuantitas maupun kualitas. Para santri yang belajar disana berjumlah kurang lebih 1000 peserta didik. Dengan kepercayaan masyarakat sebesar itu, MTs. Salafiyah mencoba untuk meningkatkan mutu dan kualitas para santri dengan mencoba membangun pola dan sistem pendidikan modern yang berbasis pada Al-Qur’an dan Kitab Kuning, sehingga muncullah ide penyusunan program  unggulan yang berorientasi pada pengembangan Tahfidz Al-Qur’an, Kitab Kuning, Bahasa Asing dan Sains.

Selama periode awal, MTs. Salafiyah lebih menekankan pembelajaran kitab kuning dengan metode pembelajaran klasikal sebagai karakteristik yang dikembangkan. Namun, seiring perkembangan zaman dan tuntutan penyesuaian kebutuhan generasi di era globalisasi dan teknologi, maka MTs. Salafiyah membuat terobosan skema pembelajaran modern yang menggunakan Tahfidz Al-Qur’an dan Qiro’ah Kitab sebagai pondasinya.

Para santri kelas reguler diwajibkan hafal surat surat pendek atau yang dikenal dengan Juzz ‘Amma sebagai syarat kelulusan. Pembelajaran intra di kelas disampaikan guna memperkuat ilmu Al-Qur’an peserta didik, sedangkan untuk setoran hafalan, maka dipilihlah para guru pendamping yang mengawal hafalan para santri. Setiap tiga bulan, dilaksanakan tes untuk menguji kemampuan hafalan para santri dengan format ujian tertulis (tahriri) di tengah semester, dan ujian lisan (Syafahi) di setiap akhir semester. Adapun kelas unggulan dibentuk pada awal tahun pelajaran 2016-2017, Program baru ini dibuat untuk merespon keinginan masyarakat yang menginginkan format pembelajaran integral antara madrasah dan pondok pesantren, sehingga target yang ada bisa tercapai lebih optimal. Para santri kelas unggulan dituntut untuk dapat menghapal Al-Qur’an minimal 3 juz dan target maksimal 30 juz selama 3 tahun, begitupula dengan qiro’ah kitab, target yang diberikan berkisar 3 kali lipat dari target kelas reguler. Oleh karena itu, pihak madrasah dan pesantren membuat sistem pembelajaran kurikulum pesantren yang terkonsep agar mampu menunjang prestasi di Madrasah.

            Beberapa tahun belakangan, banyak muncul pertanyaan dari kalangan masyarakat, terutama wali santri mengenai standar pembelajaran kitab kuning di MTs. Salafiyah yang dianggap menurun dan semakin minim alokasi waktunya.  Sebenarnya, tidak ada kata menurun dalam target dan proses pembelajaran kitab kuning di MTs. Salafiyah. Namun, memang terjadi pergeseran paradigma dan perubahan pendekatan dan sistem, serta praktek pembelajarannya. Jika di periode tahun 90an, maupun fase fase sebelumnya, pembelajaran kitab kuning lebih banyak disampaikan dengan cara verbal, dengan cara pembacaan kitab oleh guru dan dicatat oleh para santri yang lebih dikenal dengan metode “bandongan”, atau metode santri membaca langsung dihadapan guru yang disebut metode “sorogan”. namun beberapa tahun terakhir, format klasikal tersebut dinilai membutuhkan inovasi-inovasi baru agar target yang diharapkan bisa tercapai lebih maksimal.

            Perkembangan teknologi merupakan alasan utama mengapa materi materi yang ada, termasuk kitab kuning, harus disampaikan menggunakan metode yang sesuai dengan zamannya. Para santri zaman sekarang lebih tertarik dan lebih mudah memahami jika pembelajaran disampaian dengan metode audio visual yang kemudian diikuti praktek sebagai bentuk aplikatifnya. Tim Kurikulum bidang kitab kuning MTs. Salafiyah saat ini sedang mencoba memodernisasi sistem pengajaran yang ada dengan mencoba menampilkan video-video yang dimungkinkan untuk membantu santri memahami materi, seperti contoh dalam kitab taqrib bab shalat, maka guru akan menampilkan video cara shalat yang sesuai dengan kitab tersebut, dan kemudian para santri bisa mempraktikannya, sehingga untuk mendukung sistem tersebut, seluruh kelas di MTs. Salafiyah saat ini telah dilengkapi dengan proyektor dan speaker aktif.

            Tahfidz Al-Qur’an dan Kitab Kuning secara materi mungkin tidak mengalami perubahan  signifikan, namun untuk menghadapi tuntutan zaman, maka pola pembelajarannya wajib disesuaikan dengan kondisi dan situasi para santri di era ini. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata, “Tidaklah engkau menyampaikan (suatu ilmu) kepada suatu kaum dengan sebuah pembicaraan yang tidak bisa dicapai oleh akal mereka, melainkan pasti akan menimbulkan fitnah/kesalahpahaman pada sebagian mereka.” (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *